Rabu, 10 Februari 2016

Novel : DILAN “Dia adalah Dilanku tahun 1990”

Judul : DILAN “DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990”
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : PT.Mizan Pustaka
Cetakan : XIII Juli 2015
Tebal Buku : 332 Halaman
ISBN : 978-602-7870-41-3
---

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan, 1990)
"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang" (Dilan, 1990)
"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli" (Milea, 1990)


Sebelum baca novel ini, saya pikir saya sudah terlalu tua untuk bisa menikmati lagi novel-novel teenlit macem ini. Awalnya tau novel ini dari temen sekantor, katanya saya pasti suka karena bikin nostalgia jaman-jaman SMA dulu. Karena penasaran ya sudahlah akhirnya saya pinjam, dan ternyata setelah baca, beneran sukaaaaa banget, sampai berasa gak ikhlas mau buru-buru balikin >.<

Dilan adalah sebuah novel remaja yang ditulis Pidi Baiq dengan menyajikan beberapa perbedaan mencolok dari novel remaja kebanyakan. Setting waktu ceritanya diambil tahun 1990, romansa percintaan anak SMA di tahun tersebut benar-benar sederhana dan klasik tanpa terkontaminasi Gadget.


Tokoh perempuan utama di novel Dilan adalah Milea dimana dia adalah pacar Dilan. Digambarkan dari sudut pandang Milea, menceritakan bagaimana usaha-usaha Dilan untuk mendapatkan hati Milea dengan cara yang unik tapi jenius sih menurut saya dan tetap meninggalkan kesan romantis. Contohnya, pada saat Milea Ulang Tahun, Dilan menghadiahkan buku TTS yang sudah terisi semua, dengan pesan : "SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA. INI HADIAH UNTUKMU. CUMA TTS. TAPI SUDAH KUISI SEMUA. AKU SAYANG KAMU. AKU TIDAK MAU KAMU PUSING KARENA HARUS MENGISINYA.DILAN!" (Hal.72). Kemudian ketika Milea sakit, Dilan menunjukkan perhatiannya dengan mengirim tukang pijat kerumahnya, atau ketika Dilan mengirimkan coklat ke Milea melalui tukan koran dan ketika Dilan kasih surat ke tetangga sebelah rumah Milea isinya bilang minta izin buat suka sama Milea. Bener-bener konyol dan nyeleneh ^_^

Milea mendapat surat pendek dari Dilan. Yang dititipkan lewat Rani. Isi suratnya pendek :
"Pemberitahuan : Sejak sore Kemaren,aku sudah mencintai mu! - Dilan "
---Hal.38---

Dilan minta kertas,lalu ku kasih. Kemudian dia nulis
Informasi :
Daftar orang - orang yang ingin jadi pacarmu :
1.Nandan (kelas 2 Biologi)
2.Pak Aslan (guru olahraga)
3.Tobri (kelas 3 sosial)
4.Acil (kelas 2 fisika)
5.Dilan (manusia)
---Hal.46---

"Mau gak?"
"Mau apa? Nyamuk?" kataku
"Iya.Kamu satu, aku satu"
"Disini juga banyak"
"Disitu juga ada?" tanya Dilan
"Hahaha. Ada tujuh ribu!"
"Di sini mah sedikit" katanya. "Bagi euy"
"Sini kalau mau"
"Di sini nyamuknya preman" kata Dilan
"Kok preman?"
"Iya, pada mabuk" jawab Dilan "Sempoyongan"
"Hahaha minum baygon"
"Merk apa juga mereka mah oke" jawab Dilan, "Ibuku yang beliin. Baik ibuku itu"
"Dibeliin gimana?"
"Iya, dia yang beli obatnya, ke warung buat nyamuk" jawab Dilan
"Hahaha"
"Nyamuk manja, gak bisa beli sendiri"
"Hahaha"
"Buat apa punya sayap"
"Hahaha"
"Percuma"
---Hal.161,162---


"Hey!" kusapa dia dengan suara yang sedikit kubikin agak keras. "Kaget gak?" tanyaku.
"Nanti aja kagetnya"
"Hahaha"
"Sudah pulang sekolah?" tanya Dilan.
"Iya" jawabku. "Tadi aku pulangnya ada yang ngantar lho."
"Diantar angkot?"
"Bukan" kujawab. "Oleh orang yang aku suka. Kucintai"
"Hehehe, pasti kamu senang. Suaramu juga kedengaran seneng gitu"
"Iya dong. Sangat senaaang sekali!" kataku. "Namanya juga diantar orang yang aku suka"
"Hehehe. Pasti begitu"
"Diantar sapa coba?"
"Diantar orang yang kau suka kan?"
"Cemburu dong?!" kataku. "Cemburu gak?"
"Jangan, nanti kamu repot" jawabnya.
---Hal.183---


Motor melaju dengan pelan di jalan Telaga Bodas. Itu saat Dilan akan mengantar aku pulang
“Itu pohon”, kata Dilan di atas motor, sambil nunjuk satu pohon. Dia memang bilang, saat itu, ingin jadi

guideku, katanya biar lebih kenal Bandung
“Wow”, jawabku sambil senyum, pura-pura terperangah seolah aku baru tahu pohon
“Itu langit!”, dia angkat telunjuknya ke atas
“Mendung”
“Iya. Itu Mang Jajang”, Dilan menunjuk tukang dagang di pinggir jalan
“Kamu kenal?”
“Kita namai aja Jajang”
“Ha ha ha”
“Itu uang!”, Dilan nunjuk bapak-bapak yang sedang jalan di trotoar
“Mana?”, kutanya
“Di dalam kantongnya”
“Tahu ada uangnya?”
“Kita anggap begitu”
“Kita anggap uangnya semilyar”
“Jangan, nanti dia kecewa”
“Kenapa?”
“Pas dirogoh, kantongnya kosong”
“Kan kita lagi anggap-anggapan ih!?”
“Dia ingin nyata”
“Ha ha ha”
“Ini kamu”, dia menunjukku dengan mengarahkan telunjuknya ke belakang
“Aku baru tahu”, kataku sambil senyum
“Pemakan lumba-lumba”
“Ha ha ha kamu beneran bilang begitu ke Bunda?”
“Iya”
“Mmm…kamu beneran bilang aku berkumis ke Bunda?”
“Iya”
“Mmmm…..Kamu beneran bilang…..aku pacarmu ke Bunda?’
“Iya”
“Emang kita pacaran?”
“Iya”
---Hal.213,214---


Aku bermaksud kembali ke kamar dengan hati yang sangat riang, ketika tiba-tiba telepon berdering lagi.
Langsung kuangkat dan itu masih telepon dari Dilan.
"Apa" kutanya
"Lupa" jawab Dilan. "Tolong bilang ke ibum"
"Bilang apa"
"Aku mencintai anak sulungnya"
"Hahaha. Tolong bilangin juga ke bunda"
"Apa?"
"Terimakasih sudah melahirkan orang yang aku cintai"
"Siapa?" Dilan nanya
"Ada aja"
"Siapa?"
"Kamu! Ih!" kataku
"Hahaha"
---Hal.284,285---


Proklamasi
Hari ini, di Bandung, tanggal 22 Desember 1990, Dilan dan Milea, dengan penuh perasaan, telah resmi
berpacaran.
Hal-hal mengenai penyempurnaan dan kemesraan akan diselenggarakan dalm tempo yang selama-lamanya.

"Kamu tanda tangan pake materai itu" kata Dilan.
"Oke, Kamu juga?"
"Iya"
---Hal.327---


Dialog-dialog antara Dilan dan Milea sukses bikin saya senyum dan ketawa sendiri, sehingga membuat kita tidak rela kehilangan sosok Dilan dan Milea. Dilan seakan mengajarkan kita untuk berpikir secara sederhana dalam membahagiakan kekasih. Baca novel ini bikin saya kangen pengin baca ulang.

Suasana kota Bandung di tahun 1990 tergambar dengan jelas di Novel ini. Gaya pacaran yang tahun 90an banget diwakilkan oleh sosok Dilan dan Milea. Gaya penulisan yang kocak tapi santai tapi mengena banget di hati, yang pada akhirnya bikin saya jadi ngefans sama Penulis satu ini.

Saya sangat merekomendasikan novel ini kepada kalian yang suka ataupun tidak suka baca novel remaja, dijamin pasti terpesona dengan sosok Dilan. Sebenarnya novel ini punya lanjutan dengan judul yang sangat mirip sekali, yaitu "Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1991". Tapi saya cuma kasih resensi untuk yang novel pertama saja karena saya kurang suka yang kedua, mungkin karena endingnya enggak bahagia :"(







Tidak ada komentar:

Posting Komentar